Alamat

Jl Diponegoro Gg. III Cepu - Jawa Tengah Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2013

Humor Tukang Debat

Berikut ini adalah humor yang saya peroleh dari AZZAUW SYMBIAN'S MOBILE tentang perdebatan dua orang yang berlainan madzhab, saya postkan disini bukan untuk menghina atau melecehkan suatu kelompok tertentu, tapi hanya sebagai pengingat bagi diri kita (terutama saya sendiri) agar dapat bertoleransi (tasamuh) dan tidak gampang menyalahkan orang lain yang berbeda pendapat.
Dan jika memang akan berdebat maka gunakanlah cara-cara yang baik dan ilmiah seperti yang biasa dilakukan oleh para ulama (lihat posting saya berikutnya yaitu perdebatan antara Ibnu Atho'illah dan Ibnu Taimiyah).

-----------


Assalamu'alaikum Wr Wb.

Pkikiki...lucu banget,,
Tadi sepulang dari rumah temen ane ketemu lagi dengan kenalan seorang wahabi.
Memang kalau ane dari luar ingin pulang kerumah pasti akan menempuh jalan kecil depan rumahnya karena rumahnya berada disimpang dan dia punya warung harian.
Gaya khas hariannya kalau lagi jaga toko pakai celana cingkrang baju putih, peci putih, jenggotan dikit, jidat hitam, sambil duduk2 di meja kasir plus nyetelin radio hang fm.
Nih orang bukan sekali dua kali terlibat sindir2an dengan ane.
Beberapa minggu yg lalu pas ane pulang maulid disindirin ame die katanya sambil duduk2 di tokonya.
"Dari mana akhi? habis pulang dari acara bid'ah yah??"
Ane jawab aja "Iye nih habis pulang dari acara bid'ah hasanah, namanya juga bulan maulid, maulid ada banyak neh, dan makin rame aja yg hadir walau di bilang bid'ah"
"Iya nih bulan ini banyak banget acara bid'ah, tuh disana ada juga, nih di belakang dekat mesjid anu ada juga, besok di masjid anu katanya ada juga" katanya sambil nunjuk2in
jarinya.
"tapi walau rame sekalipun kalau nggak sesuai sunnah akan sia2" lanjutnya.
Ane jawab "Iya kali akhi kalau sunnah versi Albani, kalau ane sih sunnah versi Ibnu Hajar al asqalani, guru dari guru guru guru guru nya Albani beliau bilang maulid adalah bid'ah
hasanah" kata ane sambil berlalu.
Beberapa hari setelahnya pas ana pulang dari acara maulid yg lain lagi ane disindirin lagi ame die, katanya "Wah masih semangat aja nih akhi menghadiri acara-acara bid'ah"
"Iye akh bener ente, ane makin semangat ikut acara bid'ah hasanah, memang bid'ah hasanah sangat perlu, kalau nggak pakai bid'ah hasanah mungkin indonesia ini masih aja jadi hindu sampe sekarang, radio hang fm yg selalu ente dengerin itu gak akan ada" ane jawab gitu.
Die pun diem kayak kebingungan mau jawab apa....
pkikikikikiik
Rupanya dia belum kapok juga, tadi pas pulang dari rumah temen ane disindirin lagi ame die. 
"Nih pasti abis pulang dari acara bid'ah lagi ya akhi?" katanya gitu.
"Iya nih akh acara bid'ah hasanah."
"Pelaku bid'ah itu lebih disukai iblis dari pada pelaku maksiat" katanya.
Ane udah sebel banget ama dia ini sebenarnya, karena kalau diajak ngobrol hujjah2 secara serius dia gak pernah mau.
Tiba2 didepan kami lewatlah tukang somai pake sepeda dengan membawa kotak somai dibelakangnya sambil teriak "Somai Somai Somai.....!!!"
Nggak jauh di depan terlihat tukang somainya berhenti dan turun dari sepedanya, ternyata ada orang yang beli somainya.
Nggak jauh dari situ ada lagi terdengar teriakan sateee sateeeeeeee diiringi dengan suara mangkok yg dipukul ting..ting..ting..ting..ting..
Bener tak lama muncullah tukang sate dari gang sebelah sambil mendorong gerobak..
Hati ane jadi geli pengen ketawa..dalam hati ane bilang "nih tukang somai ama tukang sate lewat di sini benar2 disaat yang tepat...!!"
Trus ane bilang ke dia.
"Akhi .. coba ente liat itu tukang somai," kata ane sambil menunjuk penjual somai,
"Dan yg itu." kata ane sambil menunjuk ke penjual sate.
"Apa yg dia teriakkin?? Sate sate kan? itu menunjukkan bahwa dia adalah seorang tukang sate kan? Dan nanti kalau ada tukang soto lewat pasti dia akan teriak2 sotoooooooo sotoooooooooooo, Dan ente tiap hari teriak2 bid'ah bid'ah itu berarti ente sejatinya adalah adalah tukang ....?????????????" kata ane sambil melangkah pulang...
Ana liat wajahnya berubah yg tadi senyum menjadi diem gak bisa bunyi lagi,,,
Ane ngerasa lucu,, wkwkwkwk dalam hati ane bilang, kena deh lu pkikiki....

Wassalamu'alaikum Wr Wb.



Senin, 26 November 2012

Titip Pada Tuhan - Tuan Rumah Kurang Ajar - Murid Tidak Berbakti


Habib bin Muhammad al-‘Ajami al-Bashri adalah seorang Persia yang menetap di kota Bashrah, perawi hadits dari Hasan al-Bashri,  Ibnu Sirin dan tokoh-tokoh hadits lainnya.
Berikut ini adalah tiga cerita lucu (anekdot) yang terjadi antara beliau dengan gurunya Hasan al-Bashri saat saya membaca buku Warisan Para Auliya karya Fariduddin Attar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh A.J. Arberry lalu diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia oleh Anas Mahyuddin.
****

TITIP PADA TUHAN
Rumah Habib terletak di sebuah persimpangan jalan di kota Bashrah. Ia mempunyai sebuah mantel bulu yang selalu dipakainya baik di musim panas maupun di musim hujan. Sekali peristiwa ketika Habib hendak bersuci, mantel itu dilepaskannya dan dengan seenaknya dilemparkan ke atas tanah.
Tidak berapa lama kemudian Hasan al-Bashri lewat di tempat itu.
Melihat mantel Habib terletak di atas jalan, ia bergumam. ”  Dasar Habib seorang Ajam (non Arab – dalam buku aslinya diterjemahkan Barbar), tak perduli berapa harga mantel bulu ini! Mantel yang seperti ini tidak boleh dibiarkan saja di tempat ini, bisa-bisa hilang nanti,”
Hasan berdiri di tempat itu untuk menjaga mantel tersebut. Tidak lama kemudian Habib pun kembali.
“Wahai  Imam kaum muslimin.” Habib menegur Hasan setelah memberi salam kepadanya. “Mengapakah engkau berdiri di sini ?”
“Tahukah engkau bahwa mantel seperti ini tidak boleh ditinggalkan di tempat begini? Bisa-bisa hilang. Katakan kepada siapakah engkau titipkan mantel ini?”
‘Kutitipkan kepada Dia (Allah) yang selanjutnya menitipkannya kepadamu.” Jawab Habib,
***

TUAN RUMAH KURANG AJAR
Pada suatu hari Hasan berkunjung ke rumah Habib. Kepadanya Habib menyuguhkan dua potong roti gandum dan sedikit garam. Hasan sudah bersiap-siap hendak menyantap hidangan itu, tetapi seorang pengemis datang dan Habib menyerahkan kedua potong roti beserta garam itu kepadanya.
Hasan terheran-heran lalu berkata: “Habib, engkau memang seorang manusia budiman. Tetapi alangkah baiknya seandainya engkau memiliki sedikit pengetahuan. Engkau mengambil roti yang telah engkau suguhkan ke ujung hidung tamu lalu mememberikan semuanya kepada seorang pengemis. Seharusnya engkau memberikan sebagian kepada si pengemis dan sebagian lagi kepada tamumu.”
Habib tidak mau memberi jawaban.
Tidak lama kemudian seorang budak dating sambil menjunjung sebuah nampan. Di atas nampan tersebut ada daging domba panggang, penganan yang manis-manis dan uang limaratus dirham perak. Si budak menyerahkan nampan tersebut ke hadapan Habib. Kemudian Habib membagikan uang tersebut kepada orang-orang miskin dan menempatkan nampan tersebut di samping Hasan.
Ketika Hasan mengeyam daging panggang itu, Habib berkata kepadanya: “Guru, engkau adalah seorang manusia budiman, tetapi alangkah baiknya seandainya engkau memiliki sedikit keyakinan. Pengetahuan harus disertai dengan keyakinan.”

***

MURID TIDAK BERBAKTI
Pada suatu hari ketika perwira-perwira Hajjaj mencari-cari Hasan, ia sedang bersembunyi di dalam pertapaan Habib.
“Apakah engkau telah melihat Hasan pada hari ini?” Tanya mereka pada Habib.
“Ya, aku telah melihatnya.” Jawab Habib.
“Di manakah Hasan saat ini?”
“Di dalam pertapaan ini.”
Para perwira tersebut memasuki tempat Habib dan mengadakan penggeledahan, namun mereka tidak menemukan Hasan.
“Tujuh kali tubuhku tersentuh oleh mereka.” Hasan mengisahkan.”namun mereka tidak melihat diriku.”
Ketika hendak meninggalkan pertapaan itu Hasan mencela Habib. ”Habib, engkau adalah seorang murid yang tidak berbakti kepada guru. Engkau telah menunjukkan tempat persembunyianku.”
“Guru karena aku berterus terang itulah engkau dapat selamat. Jika tadi aku berdusta, niscaya kita berdua sama-sama tertangkap.
“Ayat-ayat apakah yang telah engkau bacakan sehingga mereka tidak melihat diriku?” Tanya Hasan.
“Aku membaca ayat Kursi sepuluh kali, Aamanar rasul sepuluh kali dan Qul Huwaallah Ahad sepuluh kali. Setelah itu aku berkata: Ya Allah, telah kutitipkan Hasan kepada-Mu dan oleh karena itu jagalah ia.”

Sumber:
Warisan Para Awliya
Fariduddin Attar - A,J, Arberry hal 44-46 dengan sedikit perubahan dan penambahan judul cerita.

Minggu, 21 Oktober 2012

Jatuh .......



Part 1
Ruangan kelas saat itu mulai terisi oleh murid-murid  karena pelajaran nahwu – shorof untuk para santri pemula (SP) di Madrasah Diniyah Assalam akan segera di mulai.
Ustadz pengajar pun sudah mulai bersiap-siap untuk menerangkan materi pelajaran  hari itu.
Tapi ada seseorang santriwati  yang sibuk  berjalan kesan-kemari bak peragawati  kesasar di dalam kelas.
Di tengah-tengah kesibukannya mendadak ia lenyap dari pandangan si ustadz diikuti dengan suara
Gedubrak !!!!
Ternyata saking asyiknya ia berlenggak-lenggok , tanpa sadar ia dengan sukses terjatuh karena tersandung oleh sesuatu (entah kakinya sendiri atau kaki temannya atau kaki kursi  atau kaki meja  atau kaki lainnya).
Lalu tubuh si santriwati pun perlahan-lahan tampak kembali di depan ustadz tadi yang terpaksa tersenyum untuk menahan geli  (ustadz kan gak boleh tertawa ngakak).

Part 2
Beberapa minggu berikutnya terjadi pula suatu peristiwa yang lucu.
Saat itu para santriwati Madrasah DIniyah Assalam baru saja bubaran dan mau kembali pulang ke pondoknya di gang 2.  Seperti biasanya, para santriwati berjalan dengan bergerombol di jalanan yang agak gelap menuju ke pondok.
Si ustadz  pun mulai menstater  sepeda motor  tuanya yang umurnya seimbang dengan umurnya. Ia mulai menjalankan sepada motornya pelan-pelan di belakang para santriwati yang berjalan bergerombol  itu.
Mendadak dari gerombolan santriwati tadi terdengar suara keras dari sebelah kiri jalan.
Brakkk …!!!
Para santriwati pun tertawa geli  dan ada yang terbahak-bahak.  
Di susul dengan bangkitnya sesosok tubuh dari salah seorang santri SP yang masih kecil dan imut-imut.  Ia  jatuh dengan manis karena tersandung bak sampah yang ada di pinggir jalan yang kurang begitu kelihatan sebab penerangan yang remang-remang di tempat itu.
Si ustadz itu kali ini tidak bisa menahan ketawanya meski pun hanya sedikit  melihat kejadian konyol itu.

***
Untuk menjaga kehormatan dan martabat para pelaku, saya mohon maaf terpaksa merahasiakan dan tidak menyebutkan nama-nama mereka. Tapi yang jelas ini adalah peristiwa nyata bukan fiktif.

Sabtu, 22 September 2012

Salah Makan

Kejadian sial ini menimpa beberapa temanku saat mondok di pesantren Tebuireng Jombang sekitar tahun 1994.

Ceritanya pada saat itu ada anak dari kamarku kompkleks O yang punya ide untuk bikin acara masak2 sendiri. Padahal dari Pondok sudah menyiapkan makanan 3 x sehari dengan berbagai menu yang bergonta ganti. Teman2ku menyambut ide itu dengan suka cita dan gembira ria.
Pada saat yang ditentukan, acara masak memasak itupun dilakukan. Menu yang dipilih adalah nasi goreng. Setelah menunggu beberapa waktu, selesailah nasi anak itu goreng. Maka tanpa ragu2 dan sangsi lagi beraksilah teman2ku menyerbu makanan yang merangsang minat itu.
Saat menikmati nasi goreng itu barulah teman2ku merasa ada yang tak beres. Daging ayam dalam nasi goreng itu terasa kenyal dan sulit dikunyah apalagi dimakan.
Setelah anak yang masak itu ditanyai, apa yang dikira daging ayam tadi ternyata adalah sandal jepit bekas yang dipotong kecil2 hingga mirip daging ayam. Maklum anak pondok saat itu rata2 termasuk faqir miskin yang patut menerima sumbangan.

Ada lagi yang dilakukan oleh anak yang iseng tadi pada nasi goreng tadi yang untungnya teman2ku tidak tahu (kalau tahu mereka bisa ngamuk2).
Untuk menambah kesedapan cita rasa masakannya ia diam2 meludah beberapa kali saat nasi goreng itu dimasak.

Ha.... 5x.

Peribahasa:
Tak ada daging yang bisa dibeli, sandal jepit pun jadi.
Tak ada bumbu yang memadai, air ludah pun jadi.

Salah Duduk

TKP : Madrasah Diniyah Assalam Cepu
Waktu : 16.00
Hari & Tanggal : sudah lupa
Tahun : 2009 M

Kelas 3 Madin yang saat itu hanya dihuni makhluk2 cewek saja sedang ramai karena guru pengajarnya saat itu belum hadir.
Saat itu, ada salah satu siswi yang berlagak seolah2 jadi guru. Dengan bergaya dan PeDe ia duduk di kursi yang disediakan untuk guru.
Beberapa saat kemudian, guru pengajar pun datang dan siswi itu tak menyadarinya. Bahkan dengan semangat ia berdiri menghadap siswi2 yang lain.
Dasar gurunya memang suka iseng, diam2 kursi tempat duduk guru diambilnya. Siswi yang berdiri dan enak2 jadi guru tadi ternyata tak menyadarinya. Dengan santainya ia duduk lagi.
Lalu ...

" GEDUBRAAAA.....K !!"

Dengan sukses siswi itu mendarat di lantai dengan suara keras, apalagi ia termasuk cewek yang berbobot.
Seisi kelas pun tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan adegan lucu itu.
Guru pengajar kasihan melihatnya dan sebenarnya mau membantunya. Tapi dibatalkan, kan bukan muhrim jadi tak boleh menyentuhnya.

Salah Minum

Peristiwa ini terjadi saat aku berada di pasar Taji (Tambakrejo- Bojonegoro).

Saat itu pasar sedang dalam keadaan ramai2nya. Aku yang kebetulan jualan di situ pun sibuk melayani para pembeli.
Tiba2 ada temanku yang mendadak muncul di tempat. Tanpa basa basi dan tanya2 ia langsung mengambil botol aqua kecil yang berisi cairan berwarna kuning di tempat. Dengan bersemangat ia meminumnya tanpa sempat kucegah.
Baru beberapa teguk, lalu ia langsung menyemburkannya dan misuh2.
Wk Wk Wk ....
Ternyata ia keliru minum bensin yang kusediakan bagi orang2 yang membeli korek blek (korek orang2 tua dari aluminium).

Ingatlah kata pepatah:
Malu bertanya bensin diminum.

Salah Lihat

Kejadian ini terjadi saat bulan Ramadlan di Musholla PonPes Assalam.

Saat itu salah seorang ustadz dari pondok itu sedang membacakan kitab (buku berbahasa arab) kepada para santri, mengartikannya dengan bahasa jawa dan menerangkannya dengan bahasa arab. Ini adalah salah satu sistem pengajaran dalam pesantren yang disebut bandongan.
Ditengah2 pengajian, salah seorang santri tiba2 tertawa sendiri. Teman kanan kirinya pun kebingungan dan bertanya-tanya akan tingkah lakunya itu.
Ustadz pengajarnya lalu menanyakan pada santri itu apa sebabnya ia tertawa sendiri.
Dengan tertawa ia menunjukkan jarinya ke arah pojokan musholla di mana ada santri yang lagi duduk dengan santainya.
Ternyata santri itu memakai sarungnya terlalu keatas (cingkrang) dan saat ia duduk adik kecilnya (si burung) nongol dan keliatan. Maklum ia tidak pakai apa2 lagi di balik sarungnya.
Untung saja saat itu tak ada santri putri yang ikut ngaji.
Kalo tidak ........

????????

Warna Kentut

Tahukah anda apa warna kentut anda ?

Salah satu temanku Tris yang pernah mondok di Kajen merasa penasaran dan ingin tahu apa warna kentutnya. Karena itu, saat ia menanak nasi ia membuka tutup dandang lalu dengan cueknya kentut disitu. Setelah hajatnya selesai, ia tutup lagi dan menunggu sampai nasi itu masak.
Saat nasi itu masak ia buka penutupnya, ternyata nasi di dandang tadi telah berubah menjadi kehijau-hijauan.

Percobaan ini telah membuktikan bahwa:
WARNA KENTUT ITU ADALAH HIJAU.

Bagi sobat2 yang tidak percaya, boleh dibuktikan dan dicoba sendiri.

Salah Buka

Suatu hari di bulan Ramadlan pada tahun 1998.

Di pertengahan bulan puasa, aku ikut shalat tarawih di Mushalla kampungku. Saat itu jama'ah sedang meluber dan banyak anak2 kecil yang ikut shalat.
Kebetulan saat itu disebelahku ada anak kecil yang shalat disebelahku. Sedang enak2nya shalat sambil dikhusyu'-khusyu'kan (kan belum bisa khusyu' beneran) terjadi hal yang diluar dugaan.
Anak kecil yang lagi shalat disebelahku dengan cueknya dan tanpa rasa bersalah mengangkat sarungku tinggi2, padahal saat itu dibalik sarung aku tidak pakai apa2. Maka dengan gelagapan aku spontan menutupkan sarung ke bawah. Meskipun ikut fiqih shalatku tak batal tapi aku agak malu pada jama'ah kanan kiriku. Untung jama'ahnya laki2 semua (yang putri ada di sebelah kiri dipisahkan satir penghalang)
Kejadian yang sama bahkan lebih parah dialami salah seorang ustadz (Kyai) yang sedang menjadi imam jamaah santri2 putri. Anaknya yang masih kecil juga dengan enjoynya membuka sarung bapaknya saat ia sedang enak2nya mimpin shalat tarawih.

Ha... Ha... Ha... !!

Kira2 bagaimana ya perasaan santri2 putrinya yang melihatnya ?

Salah Pakai

Sore itu, seperti biasa santri2 pondok Assalam lagi sibuk ngaji kitab pada salah seorang ustadz mereka.
Di saat pengajian akan berakhir, dari jauh tampak seorang santri baru datang entah dari mana masih dengan celana panjang, pakaian pramuka dan bertopi hitam.
Dengan tergesa-gesa si santri segera ke kamarnya untuk berganti kostum santri. Lalu dengan terburu-buru ia ke musholla tempat pengajian.
Saat tiba disana, teman2nya semuanya tersenyum aneh bahkan ada yang tertawa.
Apakah gerangan yang terjadi ???
Ternyata kostum yang dipakainya tidak cocok.
Dari leher ke bawah ia berpakaian santri. Tapi ia tak pakai kopyah atau peci, tapi tetap pakai topi gaulnya yang biasa dipakainy kemana-mana.
Ha Ha Ha .........

Sungguh benar ucapan nabi SAW:
Sesungguhnya tergesa-gesa itu datangnya dari setan.