Alamat

Jl Diponegoro Gg. III Cepu - Jawa Tengah Indonesia

Minggu, 28 September 2014

Hadits ke-5 dari al-Jamiush Shoghir bag 3

Faidah 3
Ucapan nabi “keduanya meneriaki kambingnya” menunjukkan kebolehannya berteriak-teriak jika memang diperlukan seperti saat menggembala, berperang, berpidato, dan yang lainnya.
Bahkan menurut sejarah asal muasal dari bahar (pola lagu) dalam syair bahasa arab adalah dari para pengendara unta.
Bahar pertama yang diucapkan dalam syair arab adalah bahar ramal yang mengikuti wazan:
فَاعِلاَتٌ فَاعِلاَتٌ فَاعِلاَتٌ ÷ فَاعِلاَتٌ فَاعِلاَتٌ فَاعِلاَتٌ
Yaitu kata-kata yang diucapkan oleh Mudlor bin Nizar ketika tangannya patah akibat jatuh dari untanya. Dalam keadaan sakit ia mengucapkan:
وَايَدَاهْ وَايَدَاهْ
Aduh tanganku! Aduh tanganku!.
Suara itu membikin untanya bertambah semangat dalam perjalanannya, yang akhirnya kemudian ditirukan oleh para kabilah Arab ketika mereka mengendarai unta, sambil berjalan mereka selalu mngucapkan:
هَيْدَا هَيْدَا
Bergeraklah! Bergeraklah!.
Dengan demikian ucapan-ucapan itu mulai berkembang menjadi potongan-potongan sajak tradisional terutama saat mereka melakukan perjalanan dagang yang menempuh jarak yang jauh dan lama. Hal ini mengundang mereka untuk berkhayal sambil melagukan  lagu-lagu sebagai pelepas lelah dan pengisi waktu dalam perjalanan itu.
Kemudian pada abad pertengahan kedua sebelum Hijriyah (antara 491-531 M) kasidah Arab disempurnakan irama dan sajaknya oleh ‘Ady bin Rabi’ah al-Muhalhil. Lalu pada awal ke-7 Masehi (antara tahun 600-630 M) syair Arab diperindah lagi oleh seorang penyair Jahiliyah yang bernama Junduh bin Hajar al-Kindy yang terkenal dengan nama “Imru-ul Qais” yang masih seketurunan dengan al-Muhalhil yaitu dari suku bani Taghlib. Dan pada zamannya syair Arab berkembang pesat sehingga banyak tokoh penyair yang muncul dari masing-masing kabilah Arab.
Bahkan para sahabat nabi saat membangun masjid Madinah ada yang bersyair:
لَئِنْ قَعَدْنَا وَالنَّبِيُّ يَعْمَلُ     ÷ لَذَاكَ مِنَّا الْعَمَلُ الْمُضَلَّلُ
Kalau kami duduk dan nabi bekerja, maka hal itu dari kami adalah perbuatan yang  sesat.
Banyak pula sahabat-sahabat yang lain yang mengucapkan syair dalam bahar rajaz:
لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشَ اْلآخِرَةِ     ÷ اللَّهُمَ ارْحَمِِ اْلأَنْصَارِ وَالْمَهَاجِرَةْ
Tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat. Ya Allah sayangilah Anshor dan Muhajirin.
Maka rasulullah SAW pun berkata:
لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشَ اْلآخِرَةِ، اللَّهُمَ ارْحَمِِ الْمُهَاجِرِيْنَ واْلأَنْصَارِ
Tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, ya Allah sayangilah Muhajirin dan Anshor.
Ada pula riwayat yang menyatakan bahwa beliau mengucapkan syair ini:
اَللَّهُمَّ اِنَّ اْلأَجْرَ أَجْرُ اْلآخِرَةْ ÷ فَارْجَمِ اْلأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَةْ
Ya Allah sesungguhnya pahala itu adalah pahala akhirat, maka sayangilah Anshor dan Muhajirin.

Sebelumnya      Selanjutnya
(mufrodat)      (faidah 1)     (takhrij)
download     doc     pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar